Rabu, 07 Desember 2016

RESUME PENERTIBAN GANG DOLLY


   Pada resume kali ini, kami akan menjelaskan terlebih dahulu tentang kasus yang sedang kami teliti. Dalam sejarahnya, “Gang Dolly” sudah ada sejak zaman Belanda dan dikelola oleh seorang perempuan keturunan Belanda yang dikenal dengan nama Dolly Van Der Mart yang disebut – sebut sebagai legenda pencetus lokalisasi Gang Dolly.

Masyarakat, khususnya di Surabaya resah dikarenakan Gang Dolly saat ini merupakan tempat prostitusi terbesar dikawasan Asia Tenggara yang memiliki lebih dari 1000 PSK serta 300 mucikari. Banyaknya pengangguran sangat mendorong lokalisasi dari prostitusi ini.

Ada beberapa alasan mengapa seseorang memilih untuk menjadi pekerja seks. Alasan pertama dan klasik adalah alasan ekonomi. Tapi, kenyataannya banyak yang telah memiliki kestabilan ekonomi namun tetap memilih menjadi pekerja seks.
 
Alasan yang kedua adalah berhubungan dengan pendidikan dan pola pikir masyarakat. Pendidikan akan sangat mempengaruhi pola pikir seseorang untuk mengambil jalan hidupnya, faktor budaya juga terlibat dalam kasus ini.

Alasan yang ketiga adalah adanya penjerumusan dikarenakan pendidikan yang rendah.

Alasan yang keempat berlatar belakang profesi, bagi sebagian PSK Dolly bekerja sebagai WTS merupakan profesi tersendiri. Menjadi PSK bukan karena keterpaksaan ekonomi, tetapi karena kebutuhan tersier mereka yang tidak tercukupi. Kebiasaan hidup mewah menjadi penyebab mereka mencari uang dengan cara instant yaitu menjadi PSK di Gang Dolly.

Alasan yang kelima berlatar belakang kelainan seksual, jumlahnya kemungkinan sedikit, menjadi PSK bagi mereka bukan karena keterpaksaan atau ekonomi, hampir sama dengan profesi, tetapi kerap kali ini lebih didasari kelainan seksual yang berlebihan. Untuk memuaskan hasrat seksualnya para PSK ini sekalian mencari keuntungan dari dunia hitam, sekali mendayung dua pulau terlampaui, mungkin itu yang ada di benak mereka.

Sangat wajar bagi masyarakat juga Ibu Wali Kota Surabaya, Tri Rismaharini untuk menutup tempat perzinahan terbesar di Asia Tenggara ini. Bagaimana tidak, “Gang Dolly’ sudah sangat terkenal di mancanegara, mengalahkan Geylang di Singapura dan Phat Pong di Thailand.

Yang sangat dikhawatirkan jika prostitusi ini terus berkembang, para PSK yang bekerja tanpa keterpaksaan bisa ‘merangkul’ anak – anak agar menjadi seperti mereka. Penutupan Gang Dolly ini salah satunya, untuk melindungi anak – anak yang akan tumbuh menjadi generasi penerus bangsa.

Kami sebagai mahasiswi yang jauh dari tempat prostitusi tersebut sangat merasa sedih mendengarnya, karena para pekerja seks tersebut selain melanggar hukum juga melanggar perintah agama.

Mereka melalukan sesuka hati mereka agar bisa hidup hedonisme. Dengan menggunakan alasan untuk menghidupin biaya anak – anaknya. Yang ada, bukannya hidup menjadi lebih baik anak – anak tersebut akan memakan uang haram dan tidak menutup kemungkinan untuk mengikuti karir orang tuanya. Di sana pun bisa menjadi ladang penyakit, seperti HIV & AIDS.

Ada tiga hal yang menjadi alasan penutupan Gang Dolly: Pertama, letak lokalisasi yang berbaur dengan pemukiman masyarakat umum. Kedua, peraturan daerah yang melarang perdagangan manusia. Ketiga, dampak sosial bagi anak-anak yang tinggal di sekitar lokalisasi sangat buruk.

Dari kasus ini bisa kita tahu bahwa pendidikan tetap menjadi hal yang utama agar kita tidak mudah terjerat dalam suatu pergaulan, selain itu pendidikan juga dapat mengubah pola pikir kita menjadi lebih baik.





REFERENSI