Pada resume
kali ini, kami akan menjelaskan terlebih dahulu tentang kasus yang sedang kami
teliti. Dalam sejarahnya, “Gang Dolly” sudah ada sejak zaman Belanda
dan dikelola oleh seorang perempuan keturunan Belanda yang dikenal dengan nama
Dolly Van Der Mart yang disebut – sebut sebagai legenda pencetus lokalisasi
Gang Dolly.
Masyarakat,
khususnya di Surabaya resah dikarenakan Gang Dolly saat ini merupakan tempat
prostitusi terbesar dikawasan Asia Tenggara yang memiliki lebih dari 1000 PSK
serta 300 mucikari. Banyaknya pengangguran sangat mendorong lokalisasi dari
prostitusi ini.
Ada beberapa alasan mengapa seseorang memilih untuk
menjadi pekerja seks. Alasan pertama dan klasik adalah alasan ekonomi. Tapi,
kenyataannya banyak yang telah memiliki kestabilan ekonomi namun tetap memilih
menjadi pekerja seks.
Alasan yang kedua adalah berhubungan dengan pendidikan dan
pola pikir masyarakat. Pendidikan akan sangat mempengaruhi pola pikir seseorang
untuk mengambil jalan hidupnya, faktor budaya juga terlibat dalam kasus ini.
Alasan yang ketiga adalah adanya penjerumusan dikarenakan
pendidikan yang rendah.
Alasan yang keempat berlatar belakang profesi, bagi sebagian
PSK Dolly bekerja sebagai WTS merupakan profesi tersendiri. Menjadi PSK bukan
karena keterpaksaan ekonomi, tetapi karena kebutuhan tersier mereka yang tidak
tercukupi. Kebiasaan hidup mewah menjadi penyebab mereka mencari uang dengan
cara instant yaitu menjadi PSK di Gang Dolly.
Alasan yang kelima berlatar belakang kelainan seksual,
jumlahnya kemungkinan sedikit, menjadi PSK bagi mereka bukan karena
keterpaksaan atau ekonomi, hampir sama dengan profesi, tetapi kerap kali ini lebih
didasari kelainan seksual yang berlebihan. Untuk memuaskan hasrat seksualnya
para PSK ini sekalian mencari keuntungan dari dunia hitam, sekali mendayung dua
pulau terlampaui, mungkin itu yang ada di benak mereka.
Sangat wajar bagi masyarakat juga Ibu Wali Kota Surabaya, Tri
Rismaharini untuk menutup tempat perzinahan terbesar di Asia Tenggara ini.
Bagaimana tidak, “Gang Dolly’ sudah sangat terkenal di mancanegara, mengalahkan
Geylang di Singapura dan Phat Pong di Thailand.
Yang sangat dikhawatirkan jika prostitusi ini terus
berkembang, para PSK yang bekerja tanpa keterpaksaan bisa ‘merangkul’ anak –
anak agar menjadi seperti mereka. Penutupan Gang Dolly ini salah satunya, untuk
melindungi anak – anak yang akan tumbuh menjadi generasi penerus bangsa.
Kami sebagai mahasiswi yang jauh dari tempat
prostitusi tersebut sangat merasa sedih mendengarnya, karena para pekerja seks
tersebut selain melanggar hukum juga melanggar perintah agama.
Mereka melalukan sesuka hati mereka agar bisa hidup hedonisme.
Dengan menggunakan alasan untuk menghidupin biaya anak – anaknya. Yang ada,
bukannya hidup menjadi lebih baik anak – anak tersebut akan memakan uang haram
dan tidak menutup kemungkinan untuk mengikuti karir orang tuanya. Di sana pun
bisa menjadi ladang penyakit, seperti HIV & AIDS.
Ada tiga hal yang menjadi alasan penutupan Gang
Dolly: Pertama, letak lokalisasi yang berbaur dengan pemukiman masyarakat umum.
Kedua, peraturan daerah yang melarang perdagangan manusia. Ketiga, dampak
sosial bagi anak-anak yang tinggal di sekitar lokalisasi sangat buruk.
Dari kasus ini bisa kita tahu bahwa pendidikan tetap
menjadi hal yang utama agar kita tidak mudah terjerat dalam suatu pergaulan,
selain itu pendidikan juga dapat mengubah pola pikir kita menjadi lebih baik.
REFERENSI